BANDAR LAMPUNG, (CF) – Era Artificial Intellegence (AI) kini masif memasuki segala bidang, tak terkecuali juga dalam ilmu akuntansi. Hal ini juga disoroti oleh akademisi Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya Jaka Darmawan, S.E., Ak., M.Ak., MMT., CA., CPA., CMA. mengenai “Akuntansi di Era AI: Apakah Akuntan akan digantikan Mesin?
Mari kita simak dari paparan Dosen Prodi Akuntansi Darmajaya ini. Ketika memasuki kelas terdapat satu pertanyaan yang muncul dari mahasiswa semester awal (1 dan 2). “Pak Jaka, buat apa kita capek-capek belajar debit kredit kalau semua bisa dikerjakan AI?” begitu tanya salah satu mahasiswa.
Jaka Darmawan menuturkan hari ini AI dapat membuat laporan keuangan otomatis, software yang dapat mengaudit 10 ribu transaksi dalam 3 menit, juga ada bot yang bisa hitung pajak tanpa salah ketik. “Di LinkedIn, isu PHK akuntan gara-gara otomasi sudah jadi horor harian. Apakah profesi akuntan benar-benar akan tamat?,” ujarnya.
Jaka mengatakan dengan tegas profesi akuntan tidak akan tergantikan oleh AI. “Yang akan tergantikan adalah cara lama kita menjadi akuntan,” imbuhnya.
Pertama, lanjut dia, akuntan yang hanya tugasnya menginput data akan hilang karena sudah dapat terbantu dengan AI. “Kalau pekerjaan akuntan hanya menginput bon, menjurnal manual, menyalin data dari Excel ke sistem, dan bikin laporan template yang itu-itu saja, maka profesi itu memang sudah digantikan. Itu bukan salah AI. Itu memang pekerjaan yang seharusnya dari dulu diotomasi. Cepat, murah, tidak lelah,” terangnya.
Namun akuntansi bukan hanya soal input, tetapi banyak dari hal itu yang harus dipahami. “Jika hanya soal input, kamu salah jurusan. Akuntansi di level atas bukan soal angka, tapi soal pengambilan keputusan, etika, dan kepercayaan. Dan ini 3 hal yang tidak akan pernah bisa dilakukan mesin,” tuturnya.
Jaka menegaskan AI tidak memiliki professional judgment. “Dua perusahaan punya angka yang sama persis, tapi satu sehat, satu lagi mau bangkrut. Kenapa? Karena akuntan yang baik bisa membaca di balik angka. Dia bisa merasakan ada yang janggal dari arus kas, ada yang aneh dari utang yang tiba-tiba membengkak,” jelasnya.
AI, lanjut Jaka, hanya membaca data. “Akuntan membaca konteks, membaca manusia, membaca risiko. Judgment ini lahir dari pengalaman, bukan dari coding,” bebernya.
Hal yang paling penting lagi, menurut Jaka Darmawan mesin tidak dapat dimintai pertanggungjawaban. “Kalau laporan keuangan salah dan merugikan investor triliunan rupiah, siapa yang masuk penjara? Apakah ChatGPT yang akan disidang? Tentu tidak. Selama laporan keuangan masih butuh tanda tangan dan cap “Wajar Tanpa Pengecualian” dari seorang Akuntan Publik, selama itu pula profesi ini tidak akan mati. Kepercayaan publik itu diberikan kepada manusia, bukan kepada algoritma,” ucapnya.
Menurutnya, mesin tidak dapat menjadi penasihat bisnis. “Owner UMKM tidak butuh laporan laba rugi 20 lembar. Dia butuh satu kalimat: “Pak, bulan depan Bapak harus stop utang atau toko Bapak tutup.” Itulah peran akuntan modern.
Bukan lagi sebagai tukang hitung (bookkeeper), tapi sebagai penerjemah angka menjadi strategi bisnis (business advisor). AI menyajikan data, akuntan yang memberikan makna,” ungkapnya.
Jaka membeberkan bahwa Akuntan masa depan bukan yang paling jago hitung manual, tapi yang paling jago kolaborasi dengan mesin. Rumusnya sudah berubah: Akuntan Hebat = Paham Akuntansi + Paham Teknologi + Paham Bisnis.
“Mahasiswa yang hanya jago PSAK tapi buta Excel, buta data analytics, buta AI tools, akan kalah saing. Sebaliknya, mahasiswa yang jago teknologi tapi tidak paham logika akuntansi juga akan ngaco,” imbuhnya.
Di IIB Darmajaya, Jaka selalu menyampaikan kepada mahasiswa “Jangan lawan AI, pakai AI. Biar AI yang kerja lembur input 1000 transaksi. Kamu pakai waktumu untuk analisis, untuk bertemu klien, untuk memberikan solusi,” tuturnya
Jaka menambahkan bahwa dahulu akuntan menghabiskan 80% waktu untuk input, 20% untuk analisis. Sekarang harus dibalik. 80% untuk berpikir strategis, 20% biar mesin yang input.
“Sejarah sudah membuktikannya. Waktu kalkulator datang, orang bilang matematikawan akan punah. Nyatanya tidak. Waktu Excel datang, orang bilang akuntan akan punah. Nyatanya jumlah akuntan malah makin banyak. AI adalah Excel jilid 2. Lebih canggih, lebih cepat, tapi tetap alat,” urainya.
Jadi, apakah akuntan akan digantikan mesin? Tidak. Akuntan akan digantikan oleh akuntan lain yang bisa memakai mesin.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi “Apakah saya akan digantikan?”, tapi “Sudah siapkah saya jadi akuntan yang tidak bisa digantikan?” (*)
