Oleh: Junaidi Ismail, SH | Wartawan Utama
LEBARAN atau Idul Fitri sejatinya adalah momentum kemenangan spiritual setelah sebulan penuh umat Islam menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan. Kemenangan ini tidak hanya dimaknai sebagai keberhasilan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai keberhasilan mengendalikan hawa nafsu, memperkuat solidaritas sosial, serta memperdalam rasa empati terhadap sesama.
Namun, dalam realitas sosial-ekonomi masyarakat Indonesia, perayaan Lebaran kerap dihadapkan pada paradoks yang menyayat hati.
Di satu sisi, ia adalah simbol kebahagiaan kolektif, di sisi lain ia menjadi cermin ketimpangan sosial dan tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya teratasi.
Di tengah semarak takbir yang berkumandang, terselip kisah-kisah pilu yang terus berulang dari tahun ke tahun, kisah tentang keterbatasan, pengorbanan, dan ketabahan rakyat kecil.
Fenomena ini semestinya menjadi alarm moral bagi para pemangku kebijakan di negeri ini.
Negara tidak boleh abai terhadap siklus tahunan penderitaan yang dialami sebagian rakyatnya menjelang hari besar keagamaan.
Justru di momen seperti inilah kehadiran negara diuji, apakah ia mampu menjadi pelindung dan pengayom, atau justru menjadi entitas yang jauh dari denyut nadi kehidupan rakyatnya.
Secara sosiologis, Lebaran bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan peristiwa sosial yang memperkuat kohesi masyarakat.
Tradisi mudik, silaturahmi, hingga berbagi rezeki merupakan manifestasi nilai-nilai kolektif yang telah mengakar kuat dalam budaya bangsa.
Namun, dalam perspektif ekonomi politik, momen ini juga memperlihatkan dinamika daya beli masyarakat yang fluktuatif, bahkan cenderung melemah di tengah tekanan global dan kebijakan domestik yang belum sepenuhnya berpihak pada rakyat.
Di berbagai pelosok negeri, kisah-kisah mengharukan menjadi narasi yang tak terpisahkan dari perayaan Lebaran.
Ada keluarga yang tetap merayakan hari kemenangan tanpa baju baru, tanpa hidangan istimewa, namun dengan hati yang penuh syukur.
Orang tua yang menjahit sendiri pakaian anak-anaknya dari sisa kain, atau keluarga yang berbagi satu hidangan sederhana demi menjaga kebersamaan, adalah potret nyata ketahanan sosial yang luar biasa.
Di sisi lain, tradisi mudik yang menjadi ciri khas Lebaran di Indonesia juga menyimpan cerita pengorbanan yang mendalam.
Tidak sedikit perantau yang harus menabung selama berbulan-bulan demi bisa pulang kampung dan bersimpuh di hadapan orang tua.
Namun, tidak sedikit pula yang harus mengubur impian tersebut karena keterbatasan biaya.
Dalam era digital, sebagian hanya mampu melepas rindu melalui layar gawai, sebuah realitas baru yang menyentuh sekaligus menyedihkan.
Tradisi “salam tempel” atau berbagi rezeki juga menghadirkan dimensi kemanusiaan yang kuat.
Di tengah keterbatasan, masih banyak individu yang tetap menyisihkan sebagian kecil hartanya untuk membantu sesama.
Ini menunjukkan bahwa solidaritas sosial masyarakat Indonesia tidak pernah benar-benar luntur, bahkan di tengah tekanan ekonomi yang berat.
Namun demikian, tidak semua orang dapat menikmati momen Lebaran dengan kebersamaan keluarga.
Banyak pekerja yang tetap menjalankan tugasnya di hari raya, baik karena tuntutan profesi maupun kebutuhan ekonomi.
Mereka adalah wajah lain dari perjuangan hidup, yang menahan rindu demi tanggung jawab dan keberlangsungan hidup.
Dalam perspektif keilmuan, kondisi ini dapat dianalisis melalui pendekatan kesejahteraan sosial dan kebijakan publik.
Negara memiliki peran strategis dalam memastikan distribusi kesejahteraan yang adil, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan yang memiliki dampak ekonomi signifikan.
Intervensi kebijakan yang tepat seperti stabilisasi harga kebutuhan pokok, penguatan jaring pengaman sosial, serta subsidi transportasi dapat menjadi solusi konkret untuk meringankan beban masyarakat.
Lebih jauh, dalam perspektif religius, esensi Lebaran terletak pada nilai-nilai kesederhanaan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama. Islam tidak pernah mensyaratkan kemewahan dalam merayakan hari raya.
Justru, nilai ibadah dan kemanusiaan menjadi inti dari perayaan tersebut. Oleh karena itu, penting bagi seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah, untuk mengedepankan nilai-nilai ini dalam setiap kebijakan dan tindakan.
Seruan moral kepada para pemangku kebijakan bukanlah bentuk kritik semata, melainkan harapan agar negara hadir secara nyata dalam kehidupan rakyatnya.
Kebijakan publik tidak boleh hanya berorientasi pada angka dan statistik, tetapi harus menyentuh aspek kemanusiaan yang lebih dalam.
Rakyat tidak boleh dibuat sengsara oleh kebijakan yang tidak sensitif terhadap realitas sosial.
Lebaran seharusnya menjadi momentum refleksi bersama, baik bagi individu, masyarakat, maupun negara.
Ini adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi sejauh mana nilai-nilai keadilan sosial telah diwujudkan dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara.
Apakah kesejahteraan telah dirasakan secara merata? Apakah kebijakan yang diambil benar-benar berpihak pada rakyat kecil?
Pada akhirnya, kisah-kisah mengharukan yang hadir setiap Lebaran bukanlah sekadar cerita, melainkan cermin dari kondisi nyata yang harus dihadapi dengan kebijakan yang bijak dan empati yang tulus.
Ketahanan rakyat dalam menghadapi keterbatasan adalah kekuatan, tetapi bukan berarti negara boleh bergantung pada ketabahan tersebut tanpa memberikan solusi yang konkret.
Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Semoga kemenangan ini tidak hanya menjadi milik individu, tetapi juga menjadi kemenangan bersama dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)
Bandar Lampung, 21 Maret 2026
